BERITA TERKINI

Wow...!! Warung Tengah Alas Sooko Ponorogo Ada Getuk Gulung

  

Istri Jari bersama getuk gulung dagangannya, (Foto: DNY)



TEROPONGNUSA.COM | PONOROGO
 - Kebanyakan orang mungkin tidak asing lagi dengan "getuk" makanan khas Jawa berbahan dasar singkong. Apalagi jajanan tradisional tersebut kerap ditemui di pasar maupun beberapa tempat lain.

Seperti halnya Warung Tengah Alas (WTA) yang berada di jalur alternatif Ponorogo - Trenggalek atau tepatnya Dusun Plongko, Desa Jurug, Kecamatan Sooko. 

Dimana warung tersebut telah menjual getuk sejak puluhan tahun silam secara turun temurun. 

Dan uniknya, getuk yang dijualnya berbentuk gulungan. Sehingga pemilik warung menamainya dengan "getuk gulung".

"Disebut getuk gulung karena bentuknya gulungan," ucap Jari, pemilik warung.

Dengan diameter sekitar setelapak tangan dan panjang hampir selengan orang dewasa, getuk gulung miliknya dijual dengan harga Rp 6.000 per biji. Sedangkan untuk tambahan toping parutan kelapa dan gula merah dijualnya Rp 15.000 per mika.

WTA milik Jari (Foto: DNY)


Sementara untuk rasa, mungkin tidak jauh berbeda dengan getuk pada umumnya. Hanya saja setiap orang tentunya mempunyai ciri khas tersendiri meskipun sedikit.

Dijelaskan Jari, dalam sehari Ia mampu memproduksi sebanyak satu kuintal singkong. Omset itu diakuinya menurun semenjak tidak beroperasinya kembali angkutan umum antar kota milik Damri.

Karena waktu itu ada sebagian pedagang asal Trenggalek yang sengaja datang naik Damri untuk kulakan getuk miliknya.

"Dulu pedagang Trenggalek naik Damri ke sini kulakan getuk, tapi sekarang sudah tidak karena angkutannya sudah berhenti," paparnya.

Kendati demikian bukan berarti getuk miliknya hilang pembeli, melainkan warga sekitar hingga pedagang sayur keliling dan orang yang melintas masih tetap menjadi pelanggannya.

"Selain warga desa sini, yang membeli itu biasanya pedagang sayur keliling dan orang yang melintas," ujar bapak dua anak ini.

Dengan dibantu keluarga, setiap harinya getuk itu dibuat saat menjelang sore. Sementara jam buka warungnya mulai pukul 7 pagi hingga 7 malam.

Getuk bukan satu-satunya jenis dagangan yang ada di warungnya, namun berkat usaha itu Jari yang kini berusia 49 tahun mampu menghidupi keluarganya.

Mungkin jika berjualan di tengah permukiman padat sudah hal biasa. Tetapi ini tidak, selain di tengah alas dan yang melintas hanya orang-orang tertentu saja nyatanya para pembeli pun datang silih berganti.

Ke depan Jari berharap, usahanya itu terus berjalan walaupun perkembangan zaman menuntut perubahan. Apalagi di era saat ini banyak bermunculan warung modern yang tentunya bertolak belakang dengan warung tradisional milik Jari.(DNY)